Hari ini adalah hari yang paling aku tunggu-tunggu tentang pengumuman hasil uji coba
ujian nasional (try out UN). Aku sangat senang sekali namaku bisa masuk di dalam daftar
peringkat 3 besar peserta dengan prestasi terbaik. Karena kesenanganku itulah aku jadi
lupa diri, aku terus menceritakan diriku yang mendapatkan peringkat ke-3 kepada
keluarga dan teman-teman yag aku temui, aku juga agak menjauhi teman dekatku karena
dia tidak mendapatkan peringkat 10 besar. Dari kejadianku itulah teman-temanku mulai
perlahan-perlahan menjaga jarak dan cenderung manjauhiku. Awalnya aku tak tahu apa
penyebab dari mereka menjauhiku, tapi lama-kelamaan aku mulai sadar terhadap akar
permasalahan dan tahu penyebabnya yaitu karena perilaku sombongku.
Keesokan harinya, aku berniat untuk meminta maaf kepada mereka tapi aku masih
berfikir-fikir kapan waktu dan cara yang tepat untuk mengatakan maaf kepada
teman-temanku semua. Pada akhirnya kutemukan waktu yang tepat untuk berbicara
kepada mereka, di saat jam istirahat makan siang aku menghampiri teman-temanku,
awalnya mereka menjauhiku tapi syukur alhamdulillah ada satu temanku yang masih mau
aku ajak berbicara yaitu Bella, dialah temanku yang tidak mendapatkan peringkat 10
besar. Aku mencoba mendekatinya dan dengan tulus meminta maaf kepadanya sambil
aku jabat tangannya dengan erat dan alhamdulillah dia menerima permintaan maafku saat
itu juga dengan gembira sambil memelukku, sangat lega perasaanku serta bahagia dengan
tanggapan temanku yang mau langsung memaafkanku. Walaupun dalam hati kecilku
masih terdapat perasaan sedih karena teman-temanku yang lain belum juga mau
memaafkanku secara terbuka.
“Hei, kamu masih mikirin yang kemarin?” suara Bella, teriakkan kecil sahabatku
membuyarkan semua lamunanku. Aku menghela napas sambil menata pikiranku,
mencoba mengumpulkan suara dan merangkai kata serta berusaha menahan tetesan air
mataku agar tidak menetes ,,,,,,, “Iya, hik ... hik .... hiks..” aku tak mampu lagi menahan
air mataku yang akhirnya memetes di pipiku. Hanya kata, “iya” yang dapat aku keluarkan
dari mulutku, sedih dan penuh penyesalan dalam hatiku. “Jangan dipikirin lagi, sekeras
apa pun kamu memikirkannya, waktu tak kan dapat merangkak mundur.” Bella
memelukku dan mencoba menenangkanku lalu menatapku. Memang betul kata-katanya
karena aku tak lagi bisa menarik kembali semua perkataanku yang sudah pernah keluar
dari mulutku, ibarat mata panah yang sudah terlepas dari busurnya tak akan pernah bisa
kembali. Aku jadi teringat Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji : Apabila terpelihara
lidah, niscaya dapat daripadanya faedah.
“Nau, kamu tahu padi...?” aku heran atas pertanyaan Bella, sungguh ini melenceng dari
apa yang kita bicarakan tadi. Aku hanya mengangguk, menjawab pertanyaan sahabatku
dengan gerakan kepala. “Kamu tahu padi, padi itu semakin berisi dia makin merunduk,
semakin isinya banyak maka merunduknya hingga hampir menyentuh tanah, artinya
semakin kita berilmu maka kita harus semakin kamu rendah hati. Ia tak pernah
‘menyerah’ pada saat ada hama yang menggangunya, bahkan saat sudah kering pun dan
juga sampah sekamnya pun masih berguna bagi makhluk hidup lain.”
“Belajarlah dari padi Nau, tetaplah rendah hati. Jangan hiraukan mereka yang
menganggapmu tinggi hati. Mereka hanya butuh bukti nyata kalau kamu bisa berubah
menjadi diri kamu yang lebih baik, tunjukanlah Nau, tunjukan kalau kamu bisa berubah
dan ubahlah pikiran mereka tentang ketinggian hatimu. Jadilah orang yang tetap
merendahkan hati bukan rendah diri.” Aku berusaha memahami dan mencerna dalam
pikiran, qalbu serta emosiku apa yang sahabatku ucapkan tadi, “benar .... benar sekali ...
aku harus bangkit, aku tidak boleh membiarkan diriku terus berada dalam penyesalan.
Aku harus dapat menebus semua omongan buruk tentangku sebagai buah dari tinggi hati
dan kesombonganku di masa lalu.” aku berbicara pada diriku sendiri, bahwa aku ingin
berubah menjadi diriku yang lebih baik lagi, aku berusaha menasihati diriku dan mencoba
membangkitkan semangat hidupku untuk lepas dari keterpurukan ini. Aku yakin jika
setiap hari, setiap saat aku bisa menunjukan kalau aku sudah berubah “seperti PADI”
maka semua teman-temanku pasti akan memaafkanku dan semua akan menjadi baik
seperti sedia kala, aku harus selalu berusaha dan tunjukkan kalau bioosa melakukannya.
Pada akhirnya alhamdulillah teman-temanku semua memaafkan semua kesalahanku dan
semua kembali normal berjalan seperti biasa lagi, aku dan teman-temanku bisa belajar
dan bermain bersama menjadi tim yang kompak bersemangat. Aku senang sekali
akhirnya diriku bisa berubah juga, menjadi diriku yang lebih baik “sebagai PADI” yang
unggul dan tahan hama serta menghasilkan manfaat maksimal bagi alam semesta beserta
isinya . Aku sangat berterimakasih sekali kepada Bella temanku yang telah menasihatiku
dikala aku sedang dilanda musibah, menemaniku disaat aku kesepian dalam kegalauan.
Aku berharap kejadian yang pernah aku lakukan dan alami ini, hanya terjadi dan cukup
satu kali dalam seumur hidupku.
Karangan : HnR.
good..
BalasHapus