Selasa, 19 April 2016

I'mpossible

Namanya Fayza. Dia selalu dipanggil Fay. Dia memiliki 3 teman dekat.  Mereka adalah anak anak dari pengusaha kaya. Kelakuan mereka hanya berfoya-foya menghabiskan uang orang tua mereka. Mereka tidak menyukai salah satu teman sekelasnya. Sebut saja Tania. Karena menurut mereka, ia sangatlah culun. Selain itu pekerjaan orangtuanya hanyalah sebagai karyawan di perusahaan kecil.

“Gimana gimana? Udah nemu gaun yang oke?” ujar Fay. Fay dan temamn temannya sedang melihat koleksi gaun pesta disebuah toko online. Ya, Fay dan ketiga temannya itu sering berbelanja online.

“Eh, gaun ini kelihatannya bagus!” ucap Tami sambil menunjuk layar notebooknya, Fay buru buru menoleh kearah notebook dan mamandangi foto gaun tersebut. “Tapi Tam, jahiatnnya gak rapih gitu.” Jawab Fay. “Lihat ditoko langgananku aja!” saran Fay kepada teman-temannya.

Mereka langsung melihat-lihat foto gaun yang ada di toko online tersebut. Ya, mereka akan pergi ke pesta ulang tahun Hilda. Akhirnya mereka mendapatkan gaun yang cocok untuk dipakai untuk kepesta tersebut. Kecuali Salma. Katanya sih gak ada yang cocok. Jadi saat pulang sekolah, mereka merencanakan untuk pergi ke mal. Tenang, mereka selalu membawa baju ganti kesekolah.

Setelah bel pulang berbunyi, mereka bergegas menuju toilet sekolah. Setelah itu langsung menuju mal. Saat Salma sedang mencari gaun, Mama Fay menelpon. “Halo,Ma?”Fay mengangkat telpon. “Fay” kata Mama dengan suara serak. “Kenapa Ma?, Mama lagi gak enak badan?”ucapnya khawatir. “ Papa msuk rumah sakit fay, kamu cepat kesini” jawab Mama Fay.

Fay bergegas untuk pergi kerumah sakit. Sampai di rumah sakit mama menceritakannya. Papa masuk rumah sakit gara gara serangan jatung. Perusahaan yang papa kelola bangkrut.

Berita tentang bangkrutnya perusahaan papa sudah menjadi berita utama pagi itu. Saat sampai di kelas, Fay menyapa teman temanya, tetapi teman teman Fay mengacuhkannya. Fay bertanya kepada teman temannya tersebut, “Kenapa kalian ngejauh?”tanya Fay. “perusahaan papamu sudah bangkrut, derajat kita udah beda!”jawab Salma. Fay tidak menyangka bahwa teman temannya hanya memanfaatkan kekayaan orangtuanya saja.

Setelah kejadian itu tidak mau ada yang berteman dengan Fay, tetapi ada satu orang yang ingin menjadi teman Fay, yaitu Tania. Si gadis culun berkacamata itu. Fay mencoba untuk membuka toko online. Teryata toko online langganannya itu adalah toko Tania. Tetapi teman sekelasnya tidak ada yang tahu bahwa itu toko Tania. Walaupun Fay sering jatuh, tetapi ia terus bersemangat untuk mengelola toko onlinenya ya walaupun dibantu Tania.


Sekarang Fay sadar bahwa menilai  orang itu tidak hanya dari luarnya saja. Orang yang berpenampilan modis belumtentu hatinya baik. Dan begitupun sebaliknya. Jangan pernah meremehkan orang lain, karena hidup ini terus berputar. Jangan merasa bangga dengan apa yang kita miliki sekarang. dan jangan lupa untuk selalu bersyukur.

Dan inilah kisah hidup Fay. bagaimana dengan kalian?

Karya : Orinthia Lee

RUMPUT

Pada hari minggu aku berangkat ke tempat perlombaan, disana aku melihat banyak sekali 
lawanku yang pintar-pintar dan juga cerdas. Disitulah aku mulai bingung, sampai-sampai 
dari hatiku muncul perkataan :“Ya Allah, apakah aku bisa memenangkan lomba ini..?, 
sementara lawan-lawanku sangatlah hebat dan juga pintar”, perkataan itulah yang selalu 
muncul dalam pikiranku. Awalnya aku pesimis tapi aku yakin kepada diriku bahwa aku 
bisa memenangkan lomba ini. Di tempat perlombaan aku bertemu dengan temanku yang 
tidak kalah pintarnya denganku, tapi temanku yang satu ini selalu menganggap rendah 
orang lain ketika orang itu berada dibahnya dia. Setelah aku melihat dia aku mulai 
berjaga-jaga agar aku tidak dibawah posisi dia, karena aku tidak mau direndahkan sama 
dia. Ketika perlombaan berlangsung, aku mengerjakan semua soal dengan percaya diri 
dan tepat optimis bahwa aku bisa menang.

Dua minggu kemudian, pengumuman itu diberitahukan diselembar kertas putih yang 
ditempel di papan pengumuman. Aku kaget sekali karena aku berada dibawah temanku 
yang sombong itu, aku bingung dan aku kecewa sama diriku sendiri”kenapa aku tidak 
bisa memenangkan perlombaan ini, padahal aku sudah belajar semua materi yang akan 
dilombakan”.

Setelah temanku melihat hasil perlombaan itu, ternyata dia baru sadar kalau aku juga 
mengikuti perlombaan itu. Betapa malunya diriku ini kalau semua siswa tau kalo aku 
mendapatkan juara dibawahnya dia. Aku bingung sekali memikirkan semua ini. 
Sampai-sampai aku sudah pasrah kalo temanku itu ingin memperolok-olokanku 
(mempermalukanku) didepan semua warga sekolah.Aku menjerit dalam hati, aku terus 
meneteskan air yang tak henti-henti nya membasahi pundakku, aku tak mampu menerima 
kenyataan dan aku selalu mencoba lari dari semua yang terjadi. 

Saat aku melamun sendiriian di taman, sahabatku dari belakang mengagetkanku dan 
berkata: “Hei, kamu masih mikirin yang kemarin?” suara Shafa, sahabatku membuyarkan 
semua lamunanku. Aku menghela napas dan mencoba mengumpulkan suara untuk 
berkata, “Iya, hiks..hiks..”aku tak mampu lagi menahan air mataku. Hanya kata, “iya”
yang ke luar dari mulutku. “Jangan dipikirin lagi kata sahabatku. Sekeras apa pun kamu 
memikirkannya, waktu tak kan dapat merangkak mundur.” Shafa memelukku dan 
mencoba menenangkanku lalu menatapku.

“Lia, kamu tahu rumput?” aku terheran-heran dengan pertanyaan Shafa. Aku hanya 
mengangguk, menjawab pertanyaan sahabatku dengan gerakan kepala. “Kamu tahu 
rumput, rumput selalu memanjang, ia tak peduli apa pun kondisinya. Ia selalu tumbuh ke 
atas walau banyak kaki nakal menginjaknya. Ia tak menghiraukan kaki-kaki yang 
menginjaknya. Iya hanya ‘menyerah’ pada saat ada tangan mencabutnya dari tanah. 
Bahkan, saat sudah dicabut pun ia masih berguna bagi makhluk hidup lain.”

“Belajarlah dari rumput Lia, tetaplah berusaha dan bekerja keras. Jangan hiraukan mereka 
yang menganggapmu kecil. Mereka hanya butuh bukti nyata keberhasilanmu, tunjukanlah 
Lia, tunjukan kalau kamu bisa dan ubahlah pikiran mereka tentang kemustahilanmu untuk 
berhasil. Jadilah orang yang bisa menjadikan dirinya pertama tapi tidaklah sombong.” 
Aku berusaha mencerna apa yang sahabatku ucapkan tadi, “aku harus bangkit, aku tidak 
boleh membiarkan diriku terus berada dalam sumur hitam penyesalan. Aku harus dapat 
menebus semua omongan buruk tentangku.” aku berbicara pada diriku sendiri, aku 
berusaha menasihati diriku, mencoba membangunkan diriku dalam keterpurukan.


Karya : HnR

Minggu, 17 April 2016

보고싶어요 내 동생(Aku Merindukanmu Adik) (Chapter 2)

Keripik renyah yang kumakan sekali gigit suaranya terdengar. Akankah kucoba tuk berpikir bagaimana halnya tuk mengurangi rasa rindu ku terhadap adikku, karena aku sudah berlebihan. Matahari bersinar terang memancarkan cahaya yang khasnya untuk menerangi planet bumi, tapi tetap saja dingin. Ku tatap layar handphone terus menerus hingga ada yang menelpon dan berharap adikku yang menelponku. Ku hitung “Hana , dul , set !” tri liling tri liling~~ wuuu akhirnya adikku yang menelponku, segera ku angkat yeah! .
Yeoboseyo dongsaeng!,akhirnya kau menelponku”.Begitulah diriku dengan raut wajah yang senang.
“Annyeong nuna! Iya iya aku menelponmu.”
“Kau sedang apa sekarang? Bisakah nanti malam aku mengajakmu ke Mangosix?”
“Ah nuna aku sekarang sedang duduk di jendela menatap langit yang sama eaak :v”.
“Na Hyun kau bisa saja :v.”
“Bisa kok nanti malam.”
“Oke aku tunggu.”   
Aku menghempaskan pakaian-pakaianku dari lemari untuk dipilih mana yang cocok.
Mungkin dress ini yang kucocok kupakai, dengan corak gambar bunga berpolkadot merah rias. “Mungkin baju ini yang terbaik.”, gumamku.

Kutunggu sang adikku datang, sambil kumemainkan handphone saking bosennya ternyata dia datang tiba-tiba sembari menampilkan senyum indahnya. Kemudian dia menggeserkan kursinya lalu duduk seraya mengatakan ,
“Hai Nuna, cantik sekali malam ini.”
“Ehhm bukannya cantik setiap hari ya?”
“Mungkin.”
“Issh kau ini!”
Kami berdua tertawa bersama~~
Kami berbincang-bincang cukup lama ternyata. Aku bertanya seadanya, bagaimana sekolahnya, apakah hidupnya baik-baik saja, bagaimana kabar ayah selama ini. Dan jawabannya membuat hatiku senang, tidak ada perlu yang dikhawatirkan. Dan setelah itu kami memutuskan untuk jalan-jalan di festival malam. Kami bermain roaler coaster yang dipenuhi banyak orang. Ketika kami sudah duduk di roaler coaster tiba-tiba sudah mulai jalan dan sudah waktunya untuk kecepatan penuh sang roalercoaster. Kami berdua dan orang-orang berteriak riang sekeras-kerasnya hingga mulutku menganga lebar, rambutku berlambai-lambai bergesekan dengan angin. Setelah 2 menit akhirnya berhenti juga. Selanjutnya kami menaiki vertigo, sumpah demi apa aku merasakan seperti tubuhku dibanting oleh bumi diputar-putar tanpa henti, sambil baca mantra komat kamit mulutku bergerak tiada henti. Dari awal sampai berhentinya mataku merem tak mau dibuka, aku rasa sampai mati jika begini terus. Lega sudah selesai permainan vetigonya.

Sudah malam, waktunya untuk pulang ke rumah. Rasanya sebentar sekali bermain dengan adikku. Tak apa masih ada lain waktu tuk bersamanya.
“Sudah malam, waktunya untuk pulang.”
“Iya Nuna.”
“Apakah kau mau mengantarku?”
“Iya Nuna.”
Ibuku yang melihat aku dan adikku dari rumah tersenyum untuk pertama kalinya. Ku peluk adikku sebagai perpisahan untuk pulang. Setelah aku membuka pintu ternyata ibuku sudah menunggu di dalam.
“Na Eun, kau jadi tadi sedang pergi bersama adikmu?”
“Iya Eomma.”
“Semoga bahagia anakku.” Kata ibuku sambil tersenyum seraya memelukku kemudian pergi setelah mengusap rambutku. Lalu aku kembali ke kamar.
-Na Hyun P.O.V-
Dalam hatiku aku ingin serumah dengan Nuna, hajiman na eotteokhae? Geurae, aku harus ijin dulu ke ayah baru menginap ke rumah Nuna dan Ibu. Jika diperbolehkan siih. Hatiku terus merasakan betapa susahnya tidak satu atap dengan Nuna. Aku ingin terus bermain dengannya. Aku kesepian. Di rumah aku hanya bermain gitar , bermain laptop dan belajar. Tidak ada hal yang menyenangkan bukan?. Ini lah hidup harus diterima apa adanya. Bahwa sesungguhnya tuhan telah  membuat alur cerita kehidupan dan aku hanya bisa menerimanya. Mungkin ini yang terbaik. Batinku dalam hati.
-Na Eun P.O.V-
Yah, hari ini adalah hari bahagia aku bisa bersama adikku walau sebentar. Seperti biasa aku mengetikkan beberapa pesan di handphoneku untuk menanyakan kabar apakah adikku sudah sampai apa belum.
Aku : “Na Hyun, apakah kau sudah sampai? Maafkan aku karna aku telah merepotkanmu untuk mengantarku. ”
Na Hyun : “Ahh belum Nuna. Tidak apa-apa Nuna, santai saja.”
Aku : “Syukurlah kalau begitu, hatiku jadi nyaman.”
Na Hyun : “Iya Nuna.”
Aku : “Hati-hati di jalan Na hyun-ah”
Na Hyun : “Iya Nuna. Gomapta.
Aku : “ Ne Cheonmaneyo.”
Author P.O.V 
Ketika Na Hyun sedang berjalan, dari arah timur datanglah mobil dengan ugal-ugalan yang akhirnya menabrak Na Hyun. Orang yang melihatnya langsung membantu dan memanggil 119. Salah seorang penyelamat mengambil handphonenya lalu mencari kontak yang bisa dihubungi. Dan orang orang itu memanggil Na Eun.
Saksi : “Yeoboseyo, anak yang mempunyai handphone ini kecelakaan.”
Na Eun : “Jinjja?! Sekarang rumah sakit mana ?”
Saksi : “Akan dibawakan ke rumah sakit Hansu.”
Na Eun : “Gamsahamnida untuk informasinya!.”
Langsung saja aku berlari keluar rumah menaiki bus dan sampai di rumah sakit. Kutanya perawat dimana ruang inap yang bernama Na Hyun. Segera kuberlari menembus angin dan sampai di ruangan nomer 103. Ku membuka pintu dan langsung menemui Na Hyun yang sedang terbaring kaku di ranjang. Amat sedih melihatnya, padahal baru beberapa waktu yang lalu aku sedang bermain dengannya. Ku tertidur di ranjangnya hingga ada tangan yang mengelus surai rambutku dengan halus dan nyaman. Aku terbangun dan melihat adikku sudah sadar. Aku menitikkan air mata saking sedihnya melihat adikku begini.
“Kau tak apa Na Hyun-ah?”
“Iya Nuna, aku baik-baik saja.”
“Maafkan Nunamu ini.” Hingga kembali deras butir-butiran air mataku.
“Ini bukan salah Nuna.”
Hingga aku memeluk adikku, “Sudah Nuna tak apa.” Dan Na Hyun mengusap punggungku berkali-kali. “Aku tak akan meninggalkamu hingga seperti ini.” Gerutuku. Adikku hanya tersenyum melihat Nunanya berbicara seperti itu.

Akhirnya sang Na Eun pun menunggu Adiknya semalaman di rumah sakit hingga esok pagi matahari terbit menampakkan cahaya terangnya.
Cahaya menerangi tanda sang surya telah terbit , menembus kaca yang dilewati hingga menusuk ke mata. Burung berkicau seakan bernyanyi yang mengiringi hati, menusuk dada dengan suara yang merdu, hangatnya sinar matahari yang membangunkanku sekarang.
“Hoaamm.” Sambil menguap aku pun menutup mulutku.
Joheun achimieyo Nuna.” Sapaan Na Hyun yang mengagetkanku, telah sadar dari tidurnya.
Joheun achim do Na Hyun-ah.” Kubalas dengan segera.
“Tadi malam mimpi apa?” jawabnya kembali.
“Eobseo Na Hyun-ah, apa kau sudah baik-baik saja hingga kini?” jawabku.
“Ne Nuna.” Ujarnya.
“Kau bisa pulang sekarang , kata dokter tadi malam.” Ku beri tau informasinya.
“Sehabis pulang dari sini kita pulang ke rumah siapa?”
“Lebih baik jika kerumahmu saja, ayah pasti khawatir.”
“Tak apa Nuna?”
“Tak apa dongsaeng.”
Sepulang dari rumah sakit, kami langsung pergi kerumahnya Na Hyun, kami menaiki taksi. Sesampainya aku membawanya ke kamar dan menidurkannya. Terdengar dari luar ada seorang yang masuk lalu langsung menuju ke kamar  Na Hyun. Tanpa sadar ayahku langsung berbicara.
“Kau siapa gadis ini?”                       
Jeoneun Na Eun Imnida, anak ayah yang dari kecil sudah ditinggalkan.” Entah kenapa ketika aku menjawab kalimat seperti ini, seperti ada tusukan pisau yang menancap pada sebuah gabus yang melainkan dadaku sakit, sakit sesakit ini. Terlihat ayahku menangis , mungkin karna kekesalahannya meninggalkanku sejak aku masih kecil. Dan tiba-tiba saja ayah meraihku dan memelukku dan berkata, “Mianhae Na Eun-ya.” .

Dan sejak saat itu aku bisa sesering mungkin menemui ayahku. 
 

Arti : 1.  Yeoboseyo : Hallo (digunakan saat mengangkat telepon)
         2.   Dongsaeng : Adik
         3.   Jinjja : Benarkah ??
         4.   Nuna : Panggilan adik laki-laki ke kakak perempuan
         5.   Eomma : Ibu
         6.   Gomapta / Gamsahamnida(lebih formal) : Terimakasih
         7.   Ne Cheonmaneyo : Iya sama-sama
         8.  Joheun achimieyo : Selamat Pagi
         9.  Joheun achim do : Selamat Pagi Juga
        10. Jeoneun Na Eun Imnida : Saya Na Eun
        11. Mianhae : Maaf
                    12. Hajiman na eotteokhae : Tapi aku harus bagaimana ?
        13. Geurae : Baiklah

Karangan Jihan

Minggu, 10 April 2016

-Thanks Dad-

Ku rasakan alam di sekelilingku. Desiran ombak yang menyapu pantai dengan tenangnya. Mentari pagi yang sinariku dengan hangatnya. Dan angin pantai seolah membelaiku dengan lembutnya. Dengan dress putih dan diary kecilku, kususuri pantai ini. Ku coba sejenak melepaskan beban berat di pundakku. Semua permasalahan yang menimpaku akhir akhir ini . permasalahan yang tak kunjung usai, seolah semakin kacau setiap harinya. Permasalahan yang melibatkan orang yang aku sayangi yang juga menyayangiku. Masalah yang membuat mereka kecewa, bahkan diriku sendiri. Masalah yang kubuat yang bahkan aku sendiri tak tau bagaimana menyelesaikannya.
Sendiri di pantai yang sunyi ini. Ku terus berjalan menyusurinya dan ku terhenti di sebuah dermaga usang yang terabaikan. Ku buka diary kecilku dan seperti biasanya, ku tuangkan segala  emosi dan perasaan  yang ada di kepala dan hatiku. Akhir akhir ini diary ku lah yang menjadi tempat pelepas gundah yang membebani pikiranku. Karena ia tak pernah khianat apalagi membenciku. Akupun mulai menulis, huruf demi huruf kutulis diatasnya. Sesaat, ku teringat tentang bagaimana masalah besarku dimulai. Ku beranikan diri membuka lembar demi lembar dan mulai mengingat kembali peristiwa yang telah menghancurkan hidupku.

FLASHBACK
 Hari itu di sebuah SMA negri di Jakarta, aku melakukan rutinitas seperti layaknya siswi seumuranku. Suatu hari aku sedang mencari sahabatku Dina, karena kita ada janji untuk mengerjakan tugas. Dan setelah itu kita akan pergi berbelanja di sebuah mall di Jakarta. Aku mencarinya ke setiap sudut sekolah, tapi aku tidak menemukannya. Dan aku tiba-tiba teringat dimana dia biasa menghabiskan waktunya, belakang sekolah. Aku tau  apa yang sedang dia lakukan, dia sedang mabuk.
 Sebenarnya Dina adalah anak yang baik, tapi karena broken home dia ikut ayahnya ke Jawa. Setelah dina pindah aku tak pernah tau kabarnya lagi. Frustasi, salah bergaul,kurang perhatian dan kasih sayang menjadi alasannya berkenalan dengan narkoba. Ketika masuk SMA, aku meyadiari Dina menjadi orang yang berbeda. Dan itu menggerakkan hatiku untuk mengembalikan Dina yang aku kenal tanpa narkoba. 
“Dina ngapain kamu disitu? Udahlah gausah balik lagi sama temen temen lamamu. Yuk kita ngerjain tugas sama shoping.” ajakku.
“Sinta sinih gabung sama kita.” ajaknya sambil menarik lengan ku dan bergabung bersama teman temannya yang mengerikan. 
Akupun terpaska duduk dan berniat segera meninggalkan Dina, aku harus pergi tekadku. Ketika aku beranjak pergi Dina tiba tiba menyuntikkan cairan yang mencurigakan. 
“DINA!!!! Apa yang kamu lakukan?”
“Sudahlah sinta ga usah heboh gitu, cuma nyoba satu kali aja.”
Akupun langsung berlari meninggalkannya dan teman temannya yang benar benar tidak waras.
Tiga tahun setelah peristiwa itu aku melanjutkan kuliah di salah satu universitas terfaforit di jogja. Ketika kau mendaftarkan diriku ke fakultas kedokteran, aku tak lulus tes fisik. Aku sedih sangat sedih  karena aku selalu mengimpikan menjadi seorang dokter.  Karena penasaran aku pun melakukan tes fisik ke salah satu dokter di daerah tersebut, dan ternyata aku mengidap HIV/AIDS. Dokter mengatakan waktuku tidak lama lagi.segera aku pulang ke kos dengan muka pucat pasi, bagai orang yang kehilangan harapan hidupnya. Ku berfikir apa yang menyebabkan aku tertular penyakit yang dapat merenggut nyawaku, yang tak membiarkan aku menikmati hidup, yang membuatku seakan hanya sampah di masyarakat. Dan setelah aku berfikir cukup lama aku mengingat tentang bagaimana dina dengan santainya menyuntikkan jarum suntik yang entah darimana asalnya dan cairan apa di dalamnya. Jarum itu, aku yakin jarum itulah penyebabnya.
Suatu ketika di sebuah cafe, aku melihat dina sedang sendirian di depan laptopnya. Langsung saja aku mendekatinya.
“Hai din kayaknya kamu massih sehat sehat saja yaa. Kapan kamu mati?”
“Maksudmu apa sinta?”sontak aku langsunng menamparya
“Kamu tau karena kamu menyuntikkan jarum itu di belakang sekolah 3 tahun lalu, kamu sukses mempersingkat hidupku, kamu membuatku mengenal HIV.  Kamu membuat aku dikucilkan bahkan oleh saudara kandungku, kerabat dekatku, bahkan kamu menghancurkan mimpiku menjadi seorang dokter. Kamu sukses menghancurkan hidupku dalam sekejap. Terima kasih kamu telah mempercepat aku menemui tuhanku. TERIMAKASIH DIN!!!”
Dan aku langsung meninggalkan Dina yang masih terpaku mendengar perkataan yanga ku ucapkan. Aku sudah tidak peduli lagi dengannya, aku sangat kecewa.
FLASHBACK END
Aku sudah tidak sanggup lagi membendung air mataku, perasaan sakit yang teramat dalam membuatku menangis sambil menahanrasa sakit hati dan rasa di khianati. Sesaat aku merasakan seseorang datang dan memberikanku selimut, aku tau dialah ayahku. Ayahku langsung duduk di sebelahku, dan memelukku, menguatkan aku. Mungkin jika ibuku masih hidup, aku masih mempunyai teman lain yang menerimaku.
Satu tahun yang lalu dokter mengatakan waktuku tinggal tiga bulan lagi, waktu yang sangat singkat bahkan hanya untuk menikmati hidup. Tapi sepertinya kenikmatan hidup bukanlah milik penderita HIV. Semua orang mengucilkanku. Hanya ayahku lah satu satunya orang yang mampu menerimaku apa adanya. Membuatku masih bertahan melewati diagnosis dokter. 
Ayahku hanya berpesan “Bertahanlah nak ayah hanya ingin kamu bertahan. Ayah yakin kamu akan bisa menikmati hidup layaknya muda mudi seusiamu.” 
Dia selalu menguatkan aku, hingga akhirnya aku berani membangun lagi mimpiku yang telah hancur dan berani mewujudkannya. Mungkin waktuku tidak banyak, tapi aku hanya tidak ingin membuat ayahku kecewa. Terimakasih ayah tanpamu mungkin waktuku akan lebih singkat dari diagnosis dokter, mungkin aku hanya hidup sebatang kara, mungkin aku tak akan punya harapan untuk hidup dan menyerah pada kematian. Kau membuatku sadar jika nasibku bukanlah yang terburuk, masih banyak orang yang lebih menderita ketimbang diriku. Kau membuatku berani menghargai hidup. Terimakasih ayah

Karangan Daffa'

Sabtu, 02 April 2016

PADI HIJAU


 Hari ini adalah hari yang paling aku tunggu-tunggu tentang pengumuman hasil uji coba 
ujian nasional (try out UN). Aku sangat senang sekali namaku bisa masuk di dalam daftar 
peringkat 3 besar peserta dengan prestasi terbaik. Karena kesenanganku itulah aku jadi 
lupa diri, aku terus menceritakan diriku yang mendapatkan peringkat ke-3 kepada 
keluarga dan teman-teman yag aku temui, aku juga agak menjauhi teman dekatku karena 
dia tidak mendapatkan peringkat 10 besar. Dari kejadianku itulah teman-temanku mulai 
perlahan-perlahan menjaga jarak dan cenderung manjauhiku. Awalnya aku tak tahu apa 
penyebab dari mereka menjauhiku, tapi lama-kelamaan aku mulai sadar terhadap akar 
permasalahan dan tahu penyebabnya yaitu karena perilaku sombongku. 

Keesokan harinya, aku berniat untuk meminta maaf kepada mereka tapi aku masih 
berfikir-fikir kapan waktu dan cara yang tepat untuk mengatakan maaf kepada 
teman-temanku semua. Pada akhirnya kutemukan waktu yang tepat untuk berbicara 
kepada mereka, di saat jam istirahat makan siang aku menghampiri teman-temanku, 
awalnya mereka menjauhiku tapi syukur alhamdulillah ada satu temanku yang masih mau 
aku ajak berbicara yaitu Bella, dialah temanku yang tidak mendapatkan peringkat 10 
besar. Aku mencoba mendekatinya dan dengan tulus meminta maaf kepadanya sambil 
aku jabat tangannya dengan erat dan alhamdulillah dia menerima permintaan maafku saat 
itu juga dengan gembira sambil memelukku, sangat lega perasaanku serta bahagia dengan  
tanggapan temanku yang mau langsung memaafkanku. Walaupun dalam hati kecilku 
masih terdapat perasaan sedih karena teman-temanku yang lain belum juga mau 
memaafkanku secara terbuka. 

“Hei, kamu masih mikirin yang kemarin?” suara Bellateriakkan kecil sahabatku 
membuyarkan semua lamunanku. Aku menghela napas sambil menata pikiranku
mencoba mengumpulkan suara dan merangkai kata serta berusaha menahan tetesan air 
 mataku agar tidak menetes ,,,,,,, “Iya, hik ... hik .... hiks..” aku tak mampu lagi menahan 
air mataku yang akhirnya memetes di pipiku. Hanya kata, “iya” yang dapat aku keluarkan 
dari mulutku, sedih dan penuh penyesalan dalam hatiku. “Jangan dipikirin lagi, sekeras 
apa pun kamu memikirkannya, waktu tak kan dapat merangkak mundur.” Bella 
memelukku dan mencoba menenangkanku lalu menatapku. Memang betul kata-katanya 
karena aku tak lagi bisa menarik kembali semua perkataanku yang sudah pernah keluar 
dari mulutku, ibarat mata panah yang sudah terlepas dari busurnya tak akan pernah bisa 
kembali. Aku jadi teringat Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji : Apabila terpelihara 
lidah, niscaya dapat daripadanya faedah.

Nau, kamu tahu padi...?” aku heran atas pertanyaan Bella, sungguh ini melenceng dari 
apa yang kita bicarakan tadi. Aku hanya mengangguk, menjawab pertanyaan sahabatku 
dengan gerakan kepala. “Kamu tahu padipadi itu semakin berisi dia makin merunduk, 
semakin isinya banyak maka merunduknya hingga hampir menyentuh tanah, artinya 
semakin kita berilmu maka kita harus semakin kamu rendah hati. Ia tak pernah  
‘menyerah’ pada saat ada hama yang menggangunya, bahkan saat sudah kering pun dan 
juga sampah sekamnya pun masih berguna bagi makhluk hidup lain.”

“Belajarlah dari padi Nau, tetaplah rendah hati. Jangan hiraukan mereka yang 
menganggapmu tinggi hati. Mereka hanya butuh bukti nyata kalau kamu bisa berubah 
menjadi diri kamu yang lebih baik, tunjukanlah Nau, tunjukan kalau kamu bisa berubah 
dan ubahlah pikiran mereka tentang ketinggian hatimu. Jadilah orang yang tetap 
merendahkan hati bukan rendah diri.” Aku berusaha memahami dan mencerna dalam 
pikiran, qalbu serta emosiku apa yang sahabatku ucapkan tadi, “benar .... benar sekali ...  
aku harus bangkit, aku tidak boleh membiarkan diriku terus berada dalam penyesalan. 
Aku harus dapat menebus semua omongan buruk tentangku sebagai buah dari tinggi hati 
dan kesombonganku di masa lalu.” aku berbicara pada diriku sendiri, bahwa aku ingin 
berubah menjadi diriku yang lebih baik lagi, aku berusaha menasihati diriku dan mencoba 
membangkitkan semangat hidupku untuk lepas dari keterpurukan ini. Aku yakin jika 
setiap hari, setiap saat aku bisa menunjukan kalau aku sudah berubah “seperti PADI” 
maka semua teman-temanku pasti akan memaafkanku dan semua akan menjadi baik 
seperti sedia kala, aku harus selalu berusaha dan tunjukkan kalau bioosa melakukannya.

Pada akhirnya alhamdulillah teman-temanku semua memaafkan semua kesalahanku dan 
semua kembali normal berjalan seperti biasa lagi, aku dan teman-temanku bisa belajar 
dan bermain bersama menjadi tim yang kompak bersemangat. Aku senang sekali 
akhirnya diriku bisa berubah juga, menjadi diriku yang lebih baik “sebagai PADI” yang 
unggul dan tahan hama serta menghasilkan manfaat maksimal bagi alam semesta beserta 
isinya . Aku sangat berterimakasih sekali kepada Bella temanku yang telah menasihatiku 
dikala aku sedang dilanda musibah, menemaniku disaat aku kesepian dalam kegalauan. 
Aku berharap kejadian yang pernah aku lakukan dan alami ini, hanya terjadi dan cukup 
satu kali dalam seumur hidupku. 



Karangan : HnR.