Rabu, 30 Maret 2016

Kenangan




Saat pertama kali aku bertemu dengan mereka, aku tak pernah membayangkannya akan sedekat ini. Mulanya hanya seperti teman yang biasa aku temui. Memang tidak ada yang spesial dari mereka, tetapi mereka memberikan rasa kenyaman dan ketulusan. Dan semakin lama kami semakin dekat. Mulanya kami hanya bertukar pengalaman dan hingga mengetahui aib masing masing.
 Sebenarnya banyak sekali hal sepele yang kami permasalahkan, hingga kami saling menjauhi satu sama lain. Tetapi menghindar dari masalah bukanlah hal yang tepat,dan kami berfikir untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada dan kami bersatu kembali. Dalam persahabatan banyak sekali rintangan,dan itu dapat menguji ketulusan dan kesetian mereka kepada kita dalam keadaan apapun.
Bukan hal sedih saja yang telah kami lalui bersama. Hal menyenangkan juga telah kami lalui. Bagi kita sekecil apa pun kekonyolan yang tercipta, dan tak peduli apa yang akan mereka bicarakan tentang kami, asalkan dapat membuat kami tertawa bahagia. Itulah hebatnya kami, akan selalu tertawa meski banyak orang yang tidak suka kedekatan kami.
           Aku takut kalian akan melangkah kedepan untuk mengajar apa yang telah dicita citakan. Aku yakin ini akan terjadi cepat maupun lambat.
Sebelum kami lulus, kami berjuang bersama sama untuk melaksanakan try out, ujian sekolah, hingga puncaknya tiba yaitu Ujian Nasional.dan aku bangga kepada kalian karena kalian mengerjakan soal soal itu semua dengan jujur.
Setelah kami berperang dengan Ujian Nasional waktunya untuk kita refreshing. Sekolah yang memilih tempat yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kami sangatlah senang berada disana, karena kami mendapatkan cerita cerita menarik yang kami dapatkan. Tetapi setelah kami berlibur, kami sangatlah takut. Karena kami sedang menunggu hasil kelulusan.
Hari dimana akan diumumkan lulus atau tidaknya kami dari sekolah ini tiba. Aku menuju lapangan dengan perasaan was-was, Karena aku takut. Tetapi aku menyerahkan kepada Allah. Sebelum diumumkan ada sambutan dari kepala sekolah dan wali kelas yang telah menemani kami selama satu tahun kebelakang ini. Sambutan demi sambutan telah di berikan. Tiba saatnya kami dibagikan sebuah amplop yang berisi keterangan bahwa kami lulus atau tidak. Kami semuamembuka amplop itu bersama-sama, setelah mengetahui hasilnya kami langsung sujud syukur.
Aku menghampiri kedua sahabatku itu “selamat ya!” ucapku sambil berjabat tangan.”Selamat juga Ca” ucap mereka. Setelah kami mengetahui hasil kami, kami bergegas untuk pulang dan memberi tahu hasil kami kepada orang tua.
Kami lulus dari Sekolah Menengah Pertama. Dan pada akhirnya kami memutuskan untuk bersekolah ditempat yang berbeda. Kenapa? Karena kami ingin merasakan hal yang berbeda dan itu terbukti saat kami bertemu,  kayak ada manis manisnya. Dan saat kami bertemu, kami langsung bercerita satu sama lain. Seperti sudah tidak bertemu beberapa tahun. Walaupun kami tidak sekolah ditempt yang sama, tetapi kami masih melakukan komunikasi. Seperti sekarang ini
Caca    : hey, besok mau ketemu dimana?
Kia  : Braga aja gimana?
Dina    : oke oke, jam berapa ketemunya?
Kia  : jam 8 disana gimana? biar lama gitu.
Dina    : sip sip
Ya kami merencanakan untuk bertemu di suatu tempat. Karena sudah dua bulan tidak bertemu, jadi kami memutuskan untuk bertemu
Keesokan harinya, kami bertemu di Braga pukul 08.00 pagi. Saat kami berkumpul di Braga. kami memutuskan untuk mencari sarapan dahulu. Setelah itu  kami menghabiskan waktu untuk mengobrol, bercanda, flashback juga. Hingga tidak terasa matahari sudah hampir tenggelam. Kami memutuskan untuk pulang kerumah.
Tetapi ini terjadi pada saat saat pertama masuk SMA. Setelahnya kami jarang sekali bertemu, jarang sekali memberi kabar satu sama lain. Kami sudah sibuk dengan segudang tugas yang diberikan oleh guru-guru.
Tetapi setidaknya kalian harus ingat kenangan ketika kalian terjatuh sahabatlah yang akan sedia menolong kalian, ketika kalian tersesat hanya sahabat yang akan menuntun kalian kembali, ketika kalian tersakiti hanya sahabat yang akan menghapus kesedihan kalian, ketika kalian lelah hanya sahabat yang akan memberikan kalian bahu untuk bersandar.
Dan hal yang paling aku takutkan adalah kalian melupakanku. Karena sahabat hanyalah orang yang dapat kalian lupakan, tetapi berbeda dengan kenangannya, seburuk apa pun sebuah kenangan yang telah dijalani akan selalu ada di dalam diri dan selalu ada dalam ingatan kita. Sehingga hanya kenanganlah yang dapat menyatukan lagi semua itu.
Dan ini dapat kita jadikan pengalaman hidup yang sangatla berkesan. Aku berharap pertemuan kita tidak  hanya sampai sini. Aku ingin berkumpul dengan kalian saat dewasa dan jika bisa hingga tua nanti. Ingatlah kenangan yang telah kita ciptakan bersama setiap detik setiap menit setiap jam setiap hari setiap minggu setiap bulan hingga setiap tahunnya.


karangan ranura

Selasa, 29 Maret 2016

보고싶어요 내 동생 (Aku Merindukanmu Adik)

           Butir salju yang lembut perlahan turun dari langit busan yang indah. Sesekali kuingat masa lalu yang suram. Aku tinggal bersama Ibu dan adikku tinggal bersama ayah. Yah begitulah ketika aku ingat 5 tahun yang lalu orang tuaku bertengkar karena ibuku melihat ayahku sedang berselingkuh disebuah cafe.
                “Na eun , sedang apa kau merenung begitu?” Ibuku datang sesekali dengan wajah yang tak biasa, melainkan wajah yang bingung dengan alis yang dinaikkan.
                “Ah, Ibu tidak apa-apa.”Ujarku ,”Jangan bilang engkau sedang memikirkan adikmu yang satu itu?”, “Ah, ibu tau saja apa yang sedang kupikirkan.”, “Ayo turun kebawah untuk makan tteobokki” lanjutnya. “Iya bu.” .
-Flashback On-
Ketika aku mengajak ibuku untuk jalan-jalan di taman bermain dan di sana juga banyak ruko-ruko cafe yang berjejeran. Mengepal tangan karena saking kedinginan, untung saja aku dan ibuku menggunakan sapu tangan dan jaket agar tubuh tetap hangat dan nyaman. Mataku melirik gerak-gerak karena saking senangnya melihat anak kecil tertawa dengan ukiran bibir yang manis dan matanya yang sipit. Seketika aku melihat wajah ibuku dengan bingung, aku mengarah kemana tatapan mata ibuku dan tertuju ke sebuah cafe dengan ayahku yang sedang bermesraan dengan wanita lain. Akhirnya aku mengajak ibuku pulang dengan wajah yang tak bisa lagi diartikan, mau sedih juga ada rasa marah yang menghantui.
-Flashback Off-
Dan ketika ibuku mendengar mobil yang sedang berjalan ke arah rumah kami, ibuku langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri ayahku. Apa daya aku ingin mencegah tapi tak bisa. Seketika itu terdengar perkelahian yang hebat bagaikan suara bom nuklir menghancurkan satu negara. Adikku Na Hyun sesekali menangis terisak-isak dan aku hanya memeluknya agar tenang dengan situasi yang seperti ini.
                Setelah makan aku kembali ke kamarku untuk memenuhi sebagai seorang pelajar. Ya pada saat ini aku sedang duduk dikelas 1 SMA busan hakgyo. Aku tidak pintar dan tidak bodoh, ya jika dipikirkan aku hanya manusia biasa dengan akal yang lumayan. Setelah 3 jam aku belajar yang sesuai dengan jadwal besok , ingin rasanya aku memainkan laptop yang sudah berada di depanku. Ku buka layar laptop dan dengan menekankan jari telunjuk di tombol On. Sedih rasanya melihat wallpaper di layar laptopku, ini foto aku bersama adikku yang tentunya pada saat itu aku berumur 14 tahun sedangkan adikku pada saat itu berumur 10 tahun, tentunya selisih 4 tahun. Ku geserkan mouseku layaknya mainan yang digerakan untuk mengklik pencarian internet. Hujan saat ini memang enaknya untuk bermain situs di internet dengan penerang lampu yang cukup hangat cahayanya mengenai kulitku. Yang pertama seperti biasa aku membuka sosmed yang cukup terkenal di busan,instagram. Senang melihatnya foto orang-orang diunggah disini,hanya cukup dilike dan dikomen. Ku scroll mousenya dengan cepat tak terasa ada yang janggal ketika ada foto yang lewat, ku melihat dengan teliti dari bentuk mata, hidung, mulut, rambut , dan sekalian saja seluruh wajahnya. Aku berpikir dan terheran-heran apakah ini wajah adikku yang sekian lama aku cari. Kutinggalkan sebuah kata di fotonya, ”Apakah kau adikku Na Hyun? Ini kakakmu Na Eun. Jika kau sudah melihat ini tolong balaslah, aku menginginkan kau menjawabnya, neomu jebal, geurigo annyeong J”. Cukup senang melihat perubahan wajah adikku yang sekarang. Tampan.
Lagi-lagi ibuku membuka pintu kamarku tanpa mengetok terlebih dahulu.
                “Na eun kau belum tidur? Tidurlah, kalau tidak kau besok akan lelah jika sudah berada di sekolah.” tanya ibuku. “Iya ibu, aku akan tidur.” Sembari dengan men-shut down dan menutup layar laptop. Aku tertidur dengan selalu mengharapkan agar aku bisa cepat-cepat bertemu dengan adikku yang entah dimana.
                Seperti biasa aku berangkat sekolah, paling telat jam 08.00 pagi. Aku diantar oleh ibuku dengan mengendarai mobil. Karena ini hari sabtu pulang lebih awal. Sekedar agar tidak bosan dirumah aku berjalan mengelilingi taman dan aku duduk yang sudah disiapkan oleh tamannya. Ku buka laptop yang memang sudah dibawa dari rumah. Aku sangat berharap jika adikku membalas apa yang kutinggalkan dengan sebuah kata yang kemarin aku tulis. Ku buka Instagram yang sudah tertempel dilayar dekstop. Dengan cepat aku membuka dan ternyata dibalas oleh sang adik.
                “Ini nuna? Benarkah ? aku sangat merindukanmu nuna L. ” Rasanya aku sudah menitikkan air dari kedua mataku, tak dapat ditahan oleh perasaannya yang amat senang ini bercampur air mata bahagia. Akhirnya aku membalasnya, “Na Hyun kau dimana sekarang?.” Cukup aku membalasnya dengan kata yang sederhana tapi mencakup semua. Jika dia sudah menyebutkan dimana dia sekarang, aku pasti akan kesana. Tak selang beberapa menit kemudian dia membalasnya,”Nuna, aku di busan sekarang.di jalan Gyeongguk.” Mataku terbelalak melihat jawabannya dengan mulutku yang menganga yang terlihat oleh orang-orang yang melintasi, aku hanya membalasnya dengan senyuman cengiran kepada orang-orang itu. Segera ku balas jawabannya,”Na Hyun aku sedang disini di taman haengbok, cepatlah kau kesini!”. Disusul dengan jawabannya “Tunggu aku nuna!”. Aku menunggu di taman ini dengan cemas-cemas berharap bahwa adikku akan menemuiku disini.
                Ku tunggu di taman ini selama 10 menit. Aku menguap karena saking menunggu adikku lama sekali. Aku tertunduk, disaat ada suara melangkah yang tiba menghampiriku , aku mendongakkan kepalaku agar aku bisa melihat siapa yang menghampiriku. Disaat aku kaget dan langsung berdiri dengan apa yang kulihat hari ini. Adikku MENDATANGIKU!!. Karena reflek aku langsung memeluk adikku yang sudah bertumbuh tinggi. Aku menangis dipelukannya dengan sesegukkan ku berkata, “kau dari mana saja?”, “Tenang nuna aku sudah disini bersamamu, Uljima”, ujarnya. “Hei kau tau aku sangat merindukanmu adikku”. Ku merasakan anggukan dari kepalanya bahwa dia mengerti apa yang kukatakan. “Berjanjilah agar kau tak akan meninggalkan kakakmu yang kesepian ini” , “Iya nuna, aku tak akan meninggalkan kakak lagi”.
                Yah, hari itu adalah hari yang paling bahagia bertemu dengan adikku yang kesekian kalinya aku tidak pernah bertemu. J .

Karangan Jihan