Ku rasakan alam di sekelilingku. Desiran ombak yang menyapu pantai dengan tenangnya. Mentari pagi yang sinariku dengan hangatnya. Dan angin pantai seolah membelaiku dengan lembutnya. Dengan dress putih dan diary kecilku, kususuri pantai ini. Ku coba sejenak melepaskan beban berat di pundakku. Semua permasalahan yang menimpaku akhir akhir ini . permasalahan yang tak kunjung usai, seolah semakin kacau setiap harinya. Permasalahan yang melibatkan orang yang aku sayangi yang juga menyayangiku. Masalah yang membuat mereka kecewa, bahkan diriku sendiri. Masalah yang kubuat yang bahkan aku sendiri tak tau bagaimana menyelesaikannya.
Sendiri di pantai yang sunyi ini. Ku terus berjalan menyusurinya dan ku terhenti di sebuah dermaga usang yang terabaikan. Ku buka diary kecilku dan seperti biasanya, ku tuangkan segala emosi dan perasaan yang ada di kepala dan hatiku. Akhir akhir ini diary ku lah yang menjadi tempat pelepas gundah yang membebani pikiranku. Karena ia tak pernah khianat apalagi membenciku. Akupun mulai menulis, huruf demi huruf kutulis diatasnya. Sesaat, ku teringat tentang bagaimana masalah besarku dimulai. Ku beranikan diri membuka lembar demi lembar dan mulai mengingat kembali peristiwa yang telah menghancurkan hidupku.
FLASHBACK
Hari itu di sebuah SMA negri di Jakarta, aku melakukan rutinitas seperti layaknya siswi seumuranku. Suatu hari aku sedang mencari sahabatku Dina, karena kita ada janji untuk mengerjakan tugas. Dan setelah itu kita akan pergi berbelanja di sebuah mall di Jakarta. Aku mencarinya ke setiap sudut sekolah, tapi aku tidak menemukannya. Dan aku tiba-tiba teringat dimana dia biasa menghabiskan waktunya, belakang sekolah. Aku tau apa yang sedang dia lakukan, dia sedang mabuk.
Sebenarnya Dina adalah anak yang baik, tapi karena broken home dia ikut ayahnya ke Jawa. Setelah dina pindah aku tak pernah tau kabarnya lagi. Frustasi, salah bergaul,kurang perhatian dan kasih sayang menjadi alasannya berkenalan dengan narkoba. Ketika masuk SMA, aku meyadiari Dina menjadi orang yang berbeda. Dan itu menggerakkan hatiku untuk mengembalikan Dina yang aku kenal tanpa narkoba.
“Dina ngapain kamu disitu? Udahlah gausah balik lagi sama temen temen lamamu. Yuk kita ngerjain tugas sama shoping.” ajakku.
“Sinta sinih gabung sama kita.” ajaknya sambil menarik lengan ku dan bergabung bersama teman temannya yang mengerikan.
Akupun terpaska duduk dan berniat segera meninggalkan Dina, aku harus pergi tekadku. Ketika aku beranjak pergi Dina tiba tiba menyuntikkan cairan yang mencurigakan.
“DINA!!!! Apa yang kamu lakukan?”
“Sudahlah sinta ga usah heboh gitu, cuma nyoba satu kali aja.”
Akupun langsung berlari meninggalkannya dan teman temannya yang benar benar tidak waras.
Tiga tahun setelah peristiwa itu aku melanjutkan kuliah di salah satu universitas terfaforit di jogja. Ketika kau mendaftarkan diriku ke fakultas kedokteran, aku tak lulus tes fisik. Aku sedih sangat sedih karena aku selalu mengimpikan menjadi seorang dokter. Karena penasaran aku pun melakukan tes fisik ke salah satu dokter di daerah tersebut, dan ternyata aku mengidap HIV/AIDS. Dokter mengatakan waktuku tidak lama lagi.segera aku pulang ke kos dengan muka pucat pasi, bagai orang yang kehilangan harapan hidupnya. Ku berfikir apa yang menyebabkan aku tertular penyakit yang dapat merenggut nyawaku, yang tak membiarkan aku menikmati hidup, yang membuatku seakan hanya sampah di masyarakat. Dan setelah aku berfikir cukup lama aku mengingat tentang bagaimana dina dengan santainya menyuntikkan jarum suntik yang entah darimana asalnya dan cairan apa di dalamnya. Jarum itu, aku yakin jarum itulah penyebabnya.
Suatu ketika di sebuah cafe, aku melihat dina sedang sendirian di depan laptopnya. Langsung saja aku mendekatinya.
“Hai din kayaknya kamu massih sehat sehat saja yaa. Kapan kamu mati?”
“Maksudmu apa sinta?”sontak aku langsunng menamparya
“Kamu tau karena kamu menyuntikkan jarum itu di belakang sekolah 3 tahun lalu, kamu sukses mempersingkat hidupku, kamu membuatku mengenal HIV. Kamu membuat aku dikucilkan bahkan oleh saudara kandungku, kerabat dekatku, bahkan kamu menghancurkan mimpiku menjadi seorang dokter. Kamu sukses menghancurkan hidupku dalam sekejap. Terima kasih kamu telah mempercepat aku menemui tuhanku. TERIMAKASIH DIN!!!”
Dan aku langsung meninggalkan Dina yang masih terpaku mendengar perkataan yanga ku ucapkan. Aku sudah tidak peduli lagi dengannya, aku sangat kecewa.
FLASHBACK END
Aku sudah tidak sanggup lagi membendung air mataku, perasaan sakit yang teramat dalam membuatku menangis sambil menahanrasa sakit hati dan rasa di khianati. Sesaat aku merasakan seseorang datang dan memberikanku selimut, aku tau dialah ayahku. Ayahku langsung duduk di sebelahku, dan memelukku, menguatkan aku. Mungkin jika ibuku masih hidup, aku masih mempunyai teman lain yang menerimaku.
Satu tahun yang lalu dokter mengatakan waktuku tinggal tiga bulan lagi, waktu yang sangat singkat bahkan hanya untuk menikmati hidup. Tapi sepertinya kenikmatan hidup bukanlah milik penderita HIV. Semua orang mengucilkanku. Hanya ayahku lah satu satunya orang yang mampu menerimaku apa adanya. Membuatku masih bertahan melewati diagnosis dokter.
Ayahku hanya berpesan “Bertahanlah nak ayah hanya ingin kamu bertahan. Ayah yakin kamu akan bisa menikmati hidup layaknya muda mudi seusiamu.”
Dia selalu menguatkan aku, hingga akhirnya aku berani membangun lagi mimpiku yang telah hancur dan berani mewujudkannya. Mungkin waktuku tidak banyak, tapi aku hanya tidak ingin membuat ayahku kecewa. Terimakasih ayah tanpamu mungkin waktuku akan lebih singkat dari diagnosis dokter, mungkin aku hanya hidup sebatang kara, mungkin aku tak akan punya harapan untuk hidup dan menyerah pada kematian. Kau membuatku sadar jika nasibku bukanlah yang terburuk, masih banyak orang yang lebih menderita ketimbang diriku. Kau membuatku berani menghargai hidup. Terimakasih ayah
Karangan Daffa'
Karangan Daffa'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar