Selasa, 19 April 2016

RUMPUT

Pada hari minggu aku berangkat ke tempat perlombaan, disana aku melihat banyak sekali 
lawanku yang pintar-pintar dan juga cerdas. Disitulah aku mulai bingung, sampai-sampai 
dari hatiku muncul perkataan :“Ya Allah, apakah aku bisa memenangkan lomba ini..?, 
sementara lawan-lawanku sangatlah hebat dan juga pintar”, perkataan itulah yang selalu 
muncul dalam pikiranku. Awalnya aku pesimis tapi aku yakin kepada diriku bahwa aku 
bisa memenangkan lomba ini. Di tempat perlombaan aku bertemu dengan temanku yang 
tidak kalah pintarnya denganku, tapi temanku yang satu ini selalu menganggap rendah 
orang lain ketika orang itu berada dibahnya dia. Setelah aku melihat dia aku mulai 
berjaga-jaga agar aku tidak dibawah posisi dia, karena aku tidak mau direndahkan sama 
dia. Ketika perlombaan berlangsung, aku mengerjakan semua soal dengan percaya diri 
dan tepat optimis bahwa aku bisa menang.

Dua minggu kemudian, pengumuman itu diberitahukan diselembar kertas putih yang 
ditempel di papan pengumuman. Aku kaget sekali karena aku berada dibawah temanku 
yang sombong itu, aku bingung dan aku kecewa sama diriku sendiri”kenapa aku tidak 
bisa memenangkan perlombaan ini, padahal aku sudah belajar semua materi yang akan 
dilombakan”.

Setelah temanku melihat hasil perlombaan itu, ternyata dia baru sadar kalau aku juga 
mengikuti perlombaan itu. Betapa malunya diriku ini kalau semua siswa tau kalo aku 
mendapatkan juara dibawahnya dia. Aku bingung sekali memikirkan semua ini. 
Sampai-sampai aku sudah pasrah kalo temanku itu ingin memperolok-olokanku 
(mempermalukanku) didepan semua warga sekolah.Aku menjerit dalam hati, aku terus 
meneteskan air yang tak henti-henti nya membasahi pundakku, aku tak mampu menerima 
kenyataan dan aku selalu mencoba lari dari semua yang terjadi. 

Saat aku melamun sendiriian di taman, sahabatku dari belakang mengagetkanku dan 
berkata: “Hei, kamu masih mikirin yang kemarin?” suara Shafa, sahabatku membuyarkan 
semua lamunanku. Aku menghela napas dan mencoba mengumpulkan suara untuk 
berkata, “Iya, hiks..hiks..”aku tak mampu lagi menahan air mataku. Hanya kata, “iya”
yang ke luar dari mulutku. “Jangan dipikirin lagi kata sahabatku. Sekeras apa pun kamu 
memikirkannya, waktu tak kan dapat merangkak mundur.” Shafa memelukku dan 
mencoba menenangkanku lalu menatapku.

“Lia, kamu tahu rumput?” aku terheran-heran dengan pertanyaan Shafa. Aku hanya 
mengangguk, menjawab pertanyaan sahabatku dengan gerakan kepala. “Kamu tahu 
rumput, rumput selalu memanjang, ia tak peduli apa pun kondisinya. Ia selalu tumbuh ke 
atas walau banyak kaki nakal menginjaknya. Ia tak menghiraukan kaki-kaki yang 
menginjaknya. Iya hanya ‘menyerah’ pada saat ada tangan mencabutnya dari tanah. 
Bahkan, saat sudah dicabut pun ia masih berguna bagi makhluk hidup lain.”

“Belajarlah dari rumput Lia, tetaplah berusaha dan bekerja keras. Jangan hiraukan mereka 
yang menganggapmu kecil. Mereka hanya butuh bukti nyata keberhasilanmu, tunjukanlah 
Lia, tunjukan kalau kamu bisa dan ubahlah pikiran mereka tentang kemustahilanmu untuk 
berhasil. Jadilah orang yang bisa menjadikan dirinya pertama tapi tidaklah sombong.” 
Aku berusaha mencerna apa yang sahabatku ucapkan tadi, “aku harus bangkit, aku tidak 
boleh membiarkan diriku terus berada dalam sumur hitam penyesalan. Aku harus dapat 
menebus semua omongan buruk tentangku.” aku berbicara pada diriku sendiri, aku 
berusaha menasihati diriku, mencoba membangunkan diriku dalam keterpurukan.


Karya : HnR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar