Pada hari minggu aku berangkat ke tempat perlombaan, disana aku melihat banyak sekali
lawanku yang pintar-pintar dan juga cerdas. Disitulah aku mulai bingung, sampai-sampai
dari hatiku muncul perkataan :“Ya Allah, apakah aku bisa memenangkan lomba ini..?,
sementara lawan-lawanku sangatlah hebat dan juga pintar”, perkataan itulah yang selalu
muncul dalam pikiranku. Awalnya aku pesimis tapi aku yakin kepada diriku bahwa aku
bisa memenangkan lomba ini. Di tempat perlombaan aku bertemu dengan temanku yang
tidak kalah pintarnya denganku, tapi temanku yang satu ini selalu menganggap rendah
orang lain ketika orang itu berada dibahnya dia. Setelah aku melihat dia aku mulai
berjaga-jaga agar aku tidak dibawah posisi dia, karena aku tidak mau direndahkan sama
dia. Ketika perlombaan berlangsung, aku mengerjakan semua soal dengan percaya diri
dan tepat optimis bahwa aku bisa menang.
Dua minggu kemudian, pengumuman itu diberitahukan diselembar kertas putih yang
ditempel di papan pengumuman. Aku kaget sekali karena aku berada dibawah temanku
yang sombong itu, aku bingung dan aku kecewa sama diriku sendiri”kenapa aku tidak
bisa memenangkan perlombaan ini, padahal aku sudah belajar semua materi yang akan
dilombakan”.
Setelah temanku melihat hasil perlombaan itu, ternyata dia baru sadar kalau aku juga
mengikuti perlombaan itu. Betapa malunya diriku ini kalau semua siswa tau kalo aku
mendapatkan juara dibawahnya dia. Aku bingung sekali memikirkan semua ini.
Sampai-sampai aku sudah pasrah kalo temanku itu ingin memperolok-olokanku
(mempermalukanku) didepan semua warga sekolah.Aku menjerit dalam hati, aku terus
meneteskan air yang tak henti-henti nya membasahi pundakku, aku tak mampu menerima
kenyataan dan aku selalu mencoba lari dari semua yang terjadi.
berkata: “Hei, kamu masih mikirin yang kemarin?” suara Shafa, sahabatku membuyarkan
semua lamunanku. Aku menghela napas dan mencoba mengumpulkan suara untuk
berkata, “Iya, hiks..hiks..”aku tak mampu lagi menahan air mataku. Hanya kata, “iya”
yang ke luar dari mulutku. “Jangan dipikirin lagi kata sahabatku. Sekeras apa pun kamu
memikirkannya, waktu tak kan dapat merangkak mundur.” Shafa memelukku dan
mencoba menenangkanku lalu menatapku.
“Lia, kamu tahu rumput?” aku terheran-heran dengan pertanyaan Shafa. Aku hanya
mengangguk, menjawab pertanyaan sahabatku dengan gerakan kepala. “Kamu tahu
rumput, rumput selalu memanjang, ia tak peduli apa pun kondisinya. Ia selalu tumbuh ke
atas walau banyak kaki nakal menginjaknya. Ia tak menghiraukan kaki-kaki yang
menginjaknya. Iya hanya ‘menyerah’ pada saat ada tangan mencabutnya dari tanah.
Bahkan, saat sudah dicabut pun ia masih berguna bagi makhluk hidup lain.”
“Belajarlah dari rumput Lia, tetaplah berusaha dan bekerja keras. Jangan hiraukan mereka
yang menganggapmu kecil. Mereka hanya butuh bukti nyata keberhasilanmu, tunjukanlah
Lia, tunjukan kalau kamu bisa dan ubahlah pikiran mereka tentang kemustahilanmu untuk
berhasil. Jadilah orang yang bisa menjadikan dirinya pertama tapi tidaklah sombong.”
Aku berusaha mencerna apa yang sahabatku ucapkan tadi, “aku harus bangkit, aku tidak
boleh membiarkan diriku terus berada dalam sumur hitam penyesalan. Aku harus dapat
menebus semua omongan buruk tentangku.” aku berbicara pada diriku sendiri, aku
berusaha menasihati diriku, mencoba membangunkan diriku dalam keterpurukan.
Karya : HnR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar