Minggu, 17 April 2016

보고싶어요 내 동생(Aku Merindukanmu Adik) (Chapter 2)

Keripik renyah yang kumakan sekali gigit suaranya terdengar. Akankah kucoba tuk berpikir bagaimana halnya tuk mengurangi rasa rindu ku terhadap adikku, karena aku sudah berlebihan. Matahari bersinar terang memancarkan cahaya yang khasnya untuk menerangi planet bumi, tapi tetap saja dingin. Ku tatap layar handphone terus menerus hingga ada yang menelpon dan berharap adikku yang menelponku. Ku hitung “Hana , dul , set !” tri liling tri liling~~ wuuu akhirnya adikku yang menelponku, segera ku angkat yeah! .
Yeoboseyo dongsaeng!,akhirnya kau menelponku”.Begitulah diriku dengan raut wajah yang senang.
“Annyeong nuna! Iya iya aku menelponmu.”
“Kau sedang apa sekarang? Bisakah nanti malam aku mengajakmu ke Mangosix?”
“Ah nuna aku sekarang sedang duduk di jendela menatap langit yang sama eaak :v”.
“Na Hyun kau bisa saja :v.”
“Bisa kok nanti malam.”
“Oke aku tunggu.”   
Aku menghempaskan pakaian-pakaianku dari lemari untuk dipilih mana yang cocok.
Mungkin dress ini yang kucocok kupakai, dengan corak gambar bunga berpolkadot merah rias. “Mungkin baju ini yang terbaik.”, gumamku.

Kutunggu sang adikku datang, sambil kumemainkan handphone saking bosennya ternyata dia datang tiba-tiba sembari menampilkan senyum indahnya. Kemudian dia menggeserkan kursinya lalu duduk seraya mengatakan ,
“Hai Nuna, cantik sekali malam ini.”
“Ehhm bukannya cantik setiap hari ya?”
“Mungkin.”
“Issh kau ini!”
Kami berdua tertawa bersama~~
Kami berbincang-bincang cukup lama ternyata. Aku bertanya seadanya, bagaimana sekolahnya, apakah hidupnya baik-baik saja, bagaimana kabar ayah selama ini. Dan jawabannya membuat hatiku senang, tidak ada perlu yang dikhawatirkan. Dan setelah itu kami memutuskan untuk jalan-jalan di festival malam. Kami bermain roaler coaster yang dipenuhi banyak orang. Ketika kami sudah duduk di roaler coaster tiba-tiba sudah mulai jalan dan sudah waktunya untuk kecepatan penuh sang roalercoaster. Kami berdua dan orang-orang berteriak riang sekeras-kerasnya hingga mulutku menganga lebar, rambutku berlambai-lambai bergesekan dengan angin. Setelah 2 menit akhirnya berhenti juga. Selanjutnya kami menaiki vertigo, sumpah demi apa aku merasakan seperti tubuhku dibanting oleh bumi diputar-putar tanpa henti, sambil baca mantra komat kamit mulutku bergerak tiada henti. Dari awal sampai berhentinya mataku merem tak mau dibuka, aku rasa sampai mati jika begini terus. Lega sudah selesai permainan vetigonya.

Sudah malam, waktunya untuk pulang ke rumah. Rasanya sebentar sekali bermain dengan adikku. Tak apa masih ada lain waktu tuk bersamanya.
“Sudah malam, waktunya untuk pulang.”
“Iya Nuna.”
“Apakah kau mau mengantarku?”
“Iya Nuna.”
Ibuku yang melihat aku dan adikku dari rumah tersenyum untuk pertama kalinya. Ku peluk adikku sebagai perpisahan untuk pulang. Setelah aku membuka pintu ternyata ibuku sudah menunggu di dalam.
“Na Eun, kau jadi tadi sedang pergi bersama adikmu?”
“Iya Eomma.”
“Semoga bahagia anakku.” Kata ibuku sambil tersenyum seraya memelukku kemudian pergi setelah mengusap rambutku. Lalu aku kembali ke kamar.
-Na Hyun P.O.V-
Dalam hatiku aku ingin serumah dengan Nuna, hajiman na eotteokhae? Geurae, aku harus ijin dulu ke ayah baru menginap ke rumah Nuna dan Ibu. Jika diperbolehkan siih. Hatiku terus merasakan betapa susahnya tidak satu atap dengan Nuna. Aku ingin terus bermain dengannya. Aku kesepian. Di rumah aku hanya bermain gitar , bermain laptop dan belajar. Tidak ada hal yang menyenangkan bukan?. Ini lah hidup harus diterima apa adanya. Bahwa sesungguhnya tuhan telah  membuat alur cerita kehidupan dan aku hanya bisa menerimanya. Mungkin ini yang terbaik. Batinku dalam hati.
-Na Eun P.O.V-
Yah, hari ini adalah hari bahagia aku bisa bersama adikku walau sebentar. Seperti biasa aku mengetikkan beberapa pesan di handphoneku untuk menanyakan kabar apakah adikku sudah sampai apa belum.
Aku : “Na Hyun, apakah kau sudah sampai? Maafkan aku karna aku telah merepotkanmu untuk mengantarku. ”
Na Hyun : “Ahh belum Nuna. Tidak apa-apa Nuna, santai saja.”
Aku : “Syukurlah kalau begitu, hatiku jadi nyaman.”
Na Hyun : “Iya Nuna.”
Aku : “Hati-hati di jalan Na hyun-ah”
Na Hyun : “Iya Nuna. Gomapta.
Aku : “ Ne Cheonmaneyo.”
Author P.O.V 
Ketika Na Hyun sedang berjalan, dari arah timur datanglah mobil dengan ugal-ugalan yang akhirnya menabrak Na Hyun. Orang yang melihatnya langsung membantu dan memanggil 119. Salah seorang penyelamat mengambil handphonenya lalu mencari kontak yang bisa dihubungi. Dan orang orang itu memanggil Na Eun.
Saksi : “Yeoboseyo, anak yang mempunyai handphone ini kecelakaan.”
Na Eun : “Jinjja?! Sekarang rumah sakit mana ?”
Saksi : “Akan dibawakan ke rumah sakit Hansu.”
Na Eun : “Gamsahamnida untuk informasinya!.”
Langsung saja aku berlari keluar rumah menaiki bus dan sampai di rumah sakit. Kutanya perawat dimana ruang inap yang bernama Na Hyun. Segera kuberlari menembus angin dan sampai di ruangan nomer 103. Ku membuka pintu dan langsung menemui Na Hyun yang sedang terbaring kaku di ranjang. Amat sedih melihatnya, padahal baru beberapa waktu yang lalu aku sedang bermain dengannya. Ku tertidur di ranjangnya hingga ada tangan yang mengelus surai rambutku dengan halus dan nyaman. Aku terbangun dan melihat adikku sudah sadar. Aku menitikkan air mata saking sedihnya melihat adikku begini.
“Kau tak apa Na Hyun-ah?”
“Iya Nuna, aku baik-baik saja.”
“Maafkan Nunamu ini.” Hingga kembali deras butir-butiran air mataku.
“Ini bukan salah Nuna.”
Hingga aku memeluk adikku, “Sudah Nuna tak apa.” Dan Na Hyun mengusap punggungku berkali-kali. “Aku tak akan meninggalkamu hingga seperti ini.” Gerutuku. Adikku hanya tersenyum melihat Nunanya berbicara seperti itu.

Akhirnya sang Na Eun pun menunggu Adiknya semalaman di rumah sakit hingga esok pagi matahari terbit menampakkan cahaya terangnya.
Cahaya menerangi tanda sang surya telah terbit , menembus kaca yang dilewati hingga menusuk ke mata. Burung berkicau seakan bernyanyi yang mengiringi hati, menusuk dada dengan suara yang merdu, hangatnya sinar matahari yang membangunkanku sekarang.
“Hoaamm.” Sambil menguap aku pun menutup mulutku.
Joheun achimieyo Nuna.” Sapaan Na Hyun yang mengagetkanku, telah sadar dari tidurnya.
Joheun achim do Na Hyun-ah.” Kubalas dengan segera.
“Tadi malam mimpi apa?” jawabnya kembali.
“Eobseo Na Hyun-ah, apa kau sudah baik-baik saja hingga kini?” jawabku.
“Ne Nuna.” Ujarnya.
“Kau bisa pulang sekarang , kata dokter tadi malam.” Ku beri tau informasinya.
“Sehabis pulang dari sini kita pulang ke rumah siapa?”
“Lebih baik jika kerumahmu saja, ayah pasti khawatir.”
“Tak apa Nuna?”
“Tak apa dongsaeng.”
Sepulang dari rumah sakit, kami langsung pergi kerumahnya Na Hyun, kami menaiki taksi. Sesampainya aku membawanya ke kamar dan menidurkannya. Terdengar dari luar ada seorang yang masuk lalu langsung menuju ke kamar  Na Hyun. Tanpa sadar ayahku langsung berbicara.
“Kau siapa gadis ini?”                       
Jeoneun Na Eun Imnida, anak ayah yang dari kecil sudah ditinggalkan.” Entah kenapa ketika aku menjawab kalimat seperti ini, seperti ada tusukan pisau yang menancap pada sebuah gabus yang melainkan dadaku sakit, sakit sesakit ini. Terlihat ayahku menangis , mungkin karna kekesalahannya meninggalkanku sejak aku masih kecil. Dan tiba-tiba saja ayah meraihku dan memelukku dan berkata, “Mianhae Na Eun-ya.” .

Dan sejak saat itu aku bisa sesering mungkin menemui ayahku. 
 

Arti : 1.  Yeoboseyo : Hallo (digunakan saat mengangkat telepon)
         2.   Dongsaeng : Adik
         3.   Jinjja : Benarkah ??
         4.   Nuna : Panggilan adik laki-laki ke kakak perempuan
         5.   Eomma : Ibu
         6.   Gomapta / Gamsahamnida(lebih formal) : Terimakasih
         7.   Ne Cheonmaneyo : Iya sama-sama
         8.  Joheun achimieyo : Selamat Pagi
         9.  Joheun achim do : Selamat Pagi Juga
        10. Jeoneun Na Eun Imnida : Saya Na Eun
        11. Mianhae : Maaf
                    12. Hajiman na eotteokhae : Tapi aku harus bagaimana ?
        13. Geurae : Baiklah

Karangan Jihan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar