Keripik renyah yang kumakan
sekali gigit suaranya terdengar. Akankah kucoba tuk berpikir bagaimana halnya
tuk mengurangi rasa rindu ku terhadap adikku, karena aku sudah berlebihan.
Matahari bersinar terang memancarkan cahaya yang khasnya untuk menerangi planet
bumi, tapi tetap saja dingin. Ku tatap layar handphone terus menerus hingga ada
yang menelpon dan berharap adikku yang menelponku. Ku hitung “Hana , dul , set
!” tri liling tri liling~~ wuuu akhirnya adikku yang menelponku, segera ku
angkat yeah! .
“Yeoboseyo dongsaeng!,akhirnya kau menelponku”.Begitulah diriku
dengan raut wajah yang senang.
“Annyeong nuna! Iya iya aku menelponmu.”
“Kau sedang apa sekarang? Bisakah nanti malam aku mengajakmu ke
Mangosix?”
“Ah nuna aku sekarang sedang duduk di jendela menatap langit yang sama
eaak :v”.
“Na Hyun kau bisa saja :v.”
“Bisa kok nanti malam.”
“Oke aku tunggu.”
Aku menghempaskan pakaian-pakaianku dari lemari untuk dipilih mana
yang cocok.
Mungkin
dress ini yang kucocok kupakai, dengan corak gambar bunga berpolkadot merah rias.
“Mungkin baju ini yang terbaik.”, gumamku.
Kutunggu sang adikku datang,
sambil kumemainkan handphone saking bosennya ternyata dia datang tiba-tiba
sembari menampilkan senyum indahnya. Kemudian dia menggeserkan kursinya lalu
duduk seraya mengatakan ,
“Hai Nuna, cantik sekali malam
ini.”
“Ehhm bukannya cantik setiap hari
ya?”
“Mungkin.”
“Issh kau ini!”
Kami berdua tertawa bersama~~
Kami berbincang-bincang cukup
lama ternyata. Aku bertanya seadanya, bagaimana sekolahnya, apakah hidupnya
baik-baik saja, bagaimana kabar ayah selama ini. Dan jawabannya membuat hatiku
senang, tidak ada perlu yang dikhawatirkan. Dan setelah itu kami memutuskan
untuk jalan-jalan di festival malam. Kami bermain roaler coaster yang dipenuhi
banyak orang. Ketika kami sudah duduk di roaler coaster tiba-tiba sudah mulai
jalan dan sudah waktunya untuk kecepatan penuh sang roalercoaster. Kami berdua
dan orang-orang berteriak riang sekeras-kerasnya hingga mulutku menganga lebar,
rambutku berlambai-lambai bergesekan dengan angin. Setelah 2 menit akhirnya
berhenti juga. Selanjutnya kami menaiki vertigo, sumpah demi apa aku merasakan
seperti tubuhku dibanting oleh bumi diputar-putar tanpa henti, sambil baca
mantra komat kamit mulutku bergerak tiada henti. Dari awal sampai berhentinya
mataku merem tak mau dibuka, aku rasa sampai mati jika begini terus. Lega sudah
selesai permainan vetigonya.
Sudah malam, waktunya untuk
pulang ke rumah. Rasanya sebentar sekali bermain dengan adikku. Tak apa masih
ada lain waktu tuk bersamanya.
“Sudah malam, waktunya untuk pulang.”
“Iya Nuna.”
“Apakah kau mau mengantarku?”
“Iya Nuna.”
Ibuku yang melihat aku dan
adikku dari rumah tersenyum untuk pertama kalinya. Ku peluk adikku sebagai
perpisahan untuk pulang. Setelah aku membuka pintu ternyata ibuku sudah
menunggu di dalam.
“Na Eun, kau jadi tadi sedang pergi bersama adikmu?”
“Iya Eomma.”
“Semoga bahagia anakku.” Kata ibuku sambil tersenyum seraya
memelukku kemudian pergi setelah mengusap rambutku. Lalu aku kembali ke kamar.
-Na Hyun P.O.V-
Dalam hatiku aku ingin serumah dengan Nuna, hajiman na eotteokhae?
Geurae, aku harus ijin dulu ke ayah baru menginap ke rumah Nuna dan Ibu. Jika
diperbolehkan siih. Hatiku terus merasakan betapa susahnya tidak satu atap
dengan Nuna. Aku ingin terus bermain dengannya. Aku kesepian. Di rumah aku
hanya bermain gitar , bermain laptop dan belajar. Tidak ada hal yang
menyenangkan bukan?. Ini lah hidup harus diterima apa adanya. Bahwa sesungguhnya
tuhan telah membuat alur cerita
kehidupan dan aku hanya bisa menerimanya. Mungkin ini yang terbaik. Batinku dalam
hati.
-Na Eun P.O.V-
Yah, hari ini adalah hari bahagia aku bisa bersama adikku
walau sebentar. Seperti biasa aku mengetikkan beberapa pesan di handphoneku
untuk menanyakan kabar apakah adikku sudah sampai apa belum.
Aku : “Na Hyun, apakah kau sudah sampai? Maafkan aku karna aku
telah merepotkanmu untuk mengantarku. ”
Na Hyun : “Ahh belum Nuna. Tidak apa-apa Nuna, santai saja.”
Aku : “Syukurlah kalau begitu, hatiku jadi nyaman.”
Na Hyun : “Iya Nuna.”
Aku : “Hati-hati di jalan Na hyun-ah”
Na Hyun : “Iya Nuna. Gomapta.”
Aku : “ Ne Cheonmaneyo.”
Author P.O.V
Ketika Na Hyun sedang berjalan,
dari arah timur datanglah mobil dengan ugal-ugalan yang akhirnya menabrak Na
Hyun. Orang yang melihatnya langsung membantu dan memanggil 119. Salah seorang
penyelamat mengambil handphonenya lalu mencari kontak yang bisa dihubungi. Dan orang
orang itu memanggil Na Eun.
Saksi : “Yeoboseyo, anak yang mempunyai handphone ini
kecelakaan.”
Na Eun : “Jinjja?! Sekarang rumah sakit mana ?”
Saksi : “Akan dibawakan ke rumah sakit Hansu.”
Na Eun : “Gamsahamnida untuk informasinya!.”
Langsung saja aku berlari keluar
rumah menaiki bus dan sampai di rumah sakit. Kutanya perawat dimana ruang inap
yang bernama Na Hyun. Segera kuberlari menembus angin dan sampai di ruangan
nomer 103. Ku membuka pintu dan langsung menemui Na Hyun yang sedang terbaring
kaku di ranjang. Amat sedih melihatnya, padahal baru beberapa waktu yang lalu
aku sedang bermain dengannya. Ku tertidur di ranjangnya hingga ada tangan yang
mengelus surai rambutku dengan halus dan nyaman. Aku terbangun dan melihat
adikku sudah sadar. Aku menitikkan air mata saking sedihnya melihat adikku
begini.
“Kau tak apa Na Hyun-ah?”
“Iya Nuna, aku baik-baik saja.”
“Maafkan Nunamu ini.” Hingga kembali deras butir-butiran air
mataku.
“Ini bukan salah Nuna.”
Hingga aku memeluk adikku, “Sudah
Nuna tak apa.” Dan Na Hyun mengusap punggungku berkali-kali. “Aku tak akan
meninggalkamu hingga seperti ini.” Gerutuku. Adikku hanya tersenyum melihat
Nunanya berbicara seperti itu.
Akhirnya sang Na Eun pun
menunggu Adiknya semalaman di rumah sakit hingga esok pagi matahari terbit
menampakkan cahaya terangnya.
Cahaya menerangi tanda sang
surya telah terbit , menembus kaca yang dilewati hingga menusuk ke mata. Burung
berkicau seakan bernyanyi yang mengiringi hati, menusuk dada dengan suara yang
merdu, hangatnya sinar matahari yang membangunkanku sekarang.
“Hoaamm.” Sambil menguap
aku pun menutup mulutku.
“Joheun achimieyo Nuna.” Sapaan Na Hyun yang mengagetkanku, telah
sadar dari tidurnya.
“Joheun achim do Na Hyun-ah.” Kubalas dengan
segera.
“Tadi malam mimpi apa?” jawabnya kembali.
“Eobseo Na Hyun-ah, apa kau sudah baik-baik saja
hingga kini?” jawabku.
“Ne Nuna.” Ujarnya.
“Kau bisa pulang sekarang , kata dokter tadi
malam.” Ku beri tau informasinya.
“Sehabis pulang dari sini kita pulang ke rumah
siapa?”
“Lebih baik jika kerumahmu saja, ayah pasti
khawatir.”
“Tak apa Nuna?”
“Tak apa dongsaeng.”
Sepulang dari rumah
sakit, kami langsung pergi kerumahnya Na Hyun, kami menaiki taksi. Sesampainya aku
membawanya ke kamar dan menidurkannya. Terdengar dari luar ada seorang yang
masuk lalu langsung menuju ke kamar Na
Hyun. Tanpa sadar ayahku langsung berbicara.
“Kau siapa gadis ini?”
“Jeoneun Na Eun Imnida, anak ayah yang
dari kecil sudah ditinggalkan.” Entah kenapa ketika aku menjawab kalimat
seperti ini, seperti ada tusukan pisau yang menancap pada sebuah gabus yang
melainkan dadaku sakit, sakit sesakit ini. Terlihat ayahku menangis , mungkin
karna kekesalahannya meninggalkanku sejak aku masih kecil. Dan tiba-tiba saja
ayah meraihku dan memelukku dan berkata, “Mianhae Na Eun-ya.” .
Dan sejak saat itu aku bisa sesering mungkin
menemui ayahku.
Arti : 1. Yeoboseyo : Hallo (digunakan saat mengangkat telepon)
2. Dongsaeng : Adik
3. Jinjja : Benarkah ??
4. Nuna : Panggilan adik laki-laki ke kakak perempuan
5. Eomma : Ibu
6. Gomapta / Gamsahamnida(lebih formal) : Terimakasih
7. Ne Cheonmaneyo : Iya sama-sama
8. Joheun achimieyo : Selamat Pagi
9. Joheun achim do : Selamat Pagi Juga
10. Jeoneun Na Eun Imnida : Saya Na Eun
11. Mianhae : Maaf
12. Hajiman na eotteokhae : Tapi aku harus bagaimana ?
13. Geurae : BaiklahKarangan Jihan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar